Sunday, 1 February 2015

Ringkasan Buku

Judul              : Dunia Durian
            Penyusun       : Redaksi Trubus
            Penerbit         : PT Trubus Swadaya, Cetakan I, 2012
            Tebal              : vi + 122 hal

            Ringkasan :
            Buku ini berisi tentang kumpulan jenis durian. Terbagi dalam tiga bab, buku ini menyajikan berbagai jenis durian di Indonesia dan mancanegara seperti di Singapore dan Malaysia. Buku ini juga menyajikan berbagai makanan unik dari bahan durian.
            Bab 1 mengenai kelezatan durian bagi pecinta buah kemudian berbagai jenis durian unik yang tersebar di Nusantara. Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ada durian matahari. Durian ini memiliki daging buah berwarna kuning cerah sampai jingga dan tebal. Kemudian berdasarkan hasil eksplorasi Dinas Kehutanan di Banyuwangi, Jawa Timur, tumbuh durian berdaging merah yang biasanya hanya ditemukan di Kalimantan. Bagian timur Indonesia juga menyimpan kekayaan variasi durian yang menakjubkan yaitu durian pelangi. Durian tersebut memiliki daging buah berwarna jingga kemerahan.


Seorang koki, Puji Purnama mampu mengkreasikan makanan berbahan durian. Ia menyajian pizza dengan toping durian. Namun tak semua durian cocok. Ia menghindari durian berasa masam dan yang masih keras. Kemudian ada pula onde-onde isi durian, puding durian. Hidangan unik lain adalah srikaya (nama kue khas Palembang) durian yang dikemas dalam kulit labu kabocha. Srikaya berupa durian, telur, tepung beras, santan, gula, garam yang diblender dan dikukus. Yang menarik biji durian pun dapat diolah menjadi hidangan. Puji mengolahnya manjadi perkedel. Biji durian dihaluskan bersama bumbu dan bahan perkedel lainnya kemudian digoreng.
Bab 2 paling banyak memuat berbagai jenis durian di Nusantara. Mulai dari durian yang terkenal di Jawa Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan daerah Indonesia Timur. Memberikan wawasan tentang durian disertai dengan gambar yang membuat pembaca dapat membayangkan secara langsung. Ternyata cara menikmati durian tidak hanya langsung dimakan. Namun, masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat, mambakar durian matang pohon hingga gosong. Kulit buahnya menghitam dan terlihat gosong. Pembakaran durian ini bertujuan untuk mengurangi bau menyengat dari durian serta mambuat rasa durian lebih manis berpadu dengan hangat.
Sebuah perkebunan di Jakarta memanen durian beranak. Maksudnya, durian ini memiliki buah ganda karena setelah membelah benangsari membuahi sel telur. Namun, sel hasil pembelahan itu menyerbuki sinerkida atau sel pendamping sehingga menghasilkan buah mungil dalam durian. Umumnya kejadian ini amat langka. Kemudain durian unik juga terdapt di Bogor. Durian ini tidak memiliki sekat, pongge yang semestinya melekat ke hati, yaitu bagian tangah justru menempel ke kulit.

Durian tanpa sekat ini, memiliki porsi lebih banyak daripada yang biasa. Adapula durian botak dan gundul di Kasembon, Malang, durian ini memiliki duri sangat pendek dan botak seperti kulit sukun. Namun, rasanya masih seperti durian pada umumnya.
Bab 3 membahas mengenai berbagai durian yang terkenal di negara tetangga. Seorang jutawan dari Republik Rakyat China berani menurunkan pesawat pribadinya untuk menikmati durian di Malaysia, ia memilih musang king. Penampilan musang king memang menggiyurkan, teksturnya lembut, tidak berserat dan daging buahnya sangat tebal, tapi bijinya hampir semuanya kempes. Di Indonesia ada sebuah restoran  kawasan Jakarta Utara yang menjual musang king dengan harga termahal. Kemudian durian terkenal lain di Malaysia adalah durian johan, daging buahnya kuning dan tebal serta rasanya manis. Adapula durian dari Malaysia yang memiliki daging buah yang tebal yaitu green fifteen.

Durian monthong yang terkenal itu ternyata berasal dari Thailand. Salah satu kota di Thailand, Bangkok, mampu mengekspor durian ini ke berbagai Negara. Sehingga durian monthong menjadi popular di sentra durian di luar Negeri Gajah Putih seperti Indonesia dan Malaysia. Thailand juga terkenal dalam hal mengolah durian. Keripik bercita rasa gurih dengan campuran durian merupakan salah satu oleh-oleh di Negeri Gajah Putih itu. Sehingga durian merupakan buah yang banyak dinikmati oleh masyarakat Indonesia dan sekitarnya.

Monday, 19 January 2015

Praktikum Kimia

ENZIM KATALASE

TUJUAN 
ü Membuktikan bahwa enzim katalase berfungsi untuk :

H2O2                   =>           H2O + O2
ü Mengetahui bahwa kerja enzim katalase dipengaruhi oleh pH dan suhu.
ü Membandingkan banyaknya enzim katalase di hati dan jantung.
                                                                       
VARIABEL PENELITIAN

Ø Variabel terikat     : Banyak gelembung dan percikan api yang dihasilkan.
Ø Variabel bebas      : Volume NaOH, HCl, dan suhu.
Variabel kontrol    : H2O2, ekstrak hati ayam, dan ekstrak jantung ayam.

ALAT DAN BAHAN

1)     Tabung reaksi
2)     Pipet tetes
3)     Pembakar spirtus
4)     Lidi
5)     korek api
6)     Es batu
7)     Ekstrak hati ayam
8)     Ekstrak jantung ayam
9)     Hidrogen perioksida ( H2O)
10)   Larutan NaOH
11)   Larutan HCl

CARA KERJA

1)     Siapkan 5 tabung reaksi, beri label nama A, B, C, D dan E
2)     Tuang ekstrak hati ayam menggunakan pipet ke dalam lima tabung reaksi tersebut, masing-masing 15 tetes.
3)     Pada tabung A masukkan 5 tetes H2O2 , tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.
4)     Pada tabung B masukkan 5 tetes HCl, kocok sebentar kemudian tambahkan 5 tetes H2O2, tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.
5)     Pada tabung C masukkan 5 tetes NaOH, kocok sebentar kemudian tambahkan 5 tetes H2O2, tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.
6)     Panaskan tabung D air panas, kemudian tambahkan 5 tetes H2O2 , tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.
7)     Dinginkan tabung E di dalam es batu, kemudian tambahkan 5 tetes H2O2 tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.
8)     Catat kelima hasil pengamatan.
9)     Cuci tabung A, kemudian isi tabung dengan 15 tetes ekstrak jantung ayam.
10)             Masukkan 5 tetes H2O2 , tutup mulut tabung dengan ibu jari dan amati gelembung gas yang terbentuk. Kemudian masukkan lidi yang membara ke dalam tabung. Amati apakah lidi tetap menyala atau padam.

TABEL PRAKTIKUM

No.
Percobaan ke-
Banyak gelembung
Nyala api
1.
1
+++
vvv
2.
2
-
-
3.
3
+
v
4.
4
++++
vvvv
5.
5
++
v
6.
6
++
vv


Keterangan :
·        +       : gelembung sedikit
·        ++     : gelembung sedang
·        +++   : gelembung banyak
·        ++++ : gelembung sangat banyak
·         -       : tidak ada gelembung

Keterangan nyala /tidak :
·        v        : menyala
·        vv      : menyala sedang
·        vvv     : menyala terang
·        vvvv   : menyala sangat terang
·         -        : tidak menyala

KESIMPULAN

1)     Faktor yang mempengaruhi kerja enzim katalase diantaranya :
a.      Suhu
Kerja enzim katalase akan semakin meningkat pada suhu tinggi. Sebaliknya, semakin rendah suhu semakin lambat kerja enzim
b.     pH
Enzim katalase akan bekerja optimal pada pH netral.

2)     Enzim katalase berperan menguraikan racun dari H2O2 menjadi H2O dan O melalui reaksi :  2H2O2 à 2H2O + O2
3)     Enzim katalase yang terdapat di hati lebih banyak jika dibandingkan enzim katalase yang terdapat di jantung.

Oleh murid IPA 4

Tuesday, 13 January 2015

Geografi

HIDROSFER

Hidrosfer merupakan wilayah perairan yang mengelilingi bumi. Hidrosfer meliputi samudra, laut, sungai, danau, air tanah, mata air, hujan, dan air yang berada di atmosfer. Sekitar tiga perempat dari permukaan bumi ditutupi oleh air. Air di bumi bersirkulasi dalam lingkaran hidrologi, di mana air jatuh sebagai hujan dan mengalir ke samudra-samudra sebagai sungai dan menguap kembali ke atmosfer.
Air di alam terbagi menjadi tiga, sebagai berikut.
1. Air di permukaan bumi, meliputi laut, sungai, danau, rawa, salju, es, dan gletser.
2. Air di udara, meliputi uap air, kabut, dan berbagai macam awan.
3. Air di dalam tanah, meliputi air tanah, air kapiler, geiser, dan artois.
Ada beberapa cabang ilmu pengetahuan yang khusus mempelajari tentang air yaitu:
1. Oceanografi, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air laut atau laut secara umum.
2. Glasiologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang es, gletser dan hal-hal lain yang berkaitan dengan es.
3.Hidrologi, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air di permukaan bumi maupun di bawah tanah.
4. Limnologi, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang danau.
5. Potamologi, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air yang mengalir di permukaan, baik yang melalui saluran ataupun tidak.
6. Geohidrologi, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari keberadaan, persebaran, dan gerakan air di bawah tanah.
7. Hidrometeorologi, adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan unsur-unsur meteorologi dan siklus hidrologi.
Jumlah air di bumi tidak bertambah dan tidak berkurang, namun wujud dan tempatnya sering mengalami perubahan. Perubahan wujud air (padat, cair, dan gas) membentuk suatu siklus atau daur yang disebut siklus/daur hidrologi.
Siklus hidrologi adalah proses perputaran air, dari air menguap menjadi awan, dan apabila sudah mencapai titik jenuh awan tersebut akan jatuh dalam bentuk air hujan begitu seterusnya.
Dalam siklus hidrologi air mengalami perubahan bentuk. Berbagai perubahan bentuk air dalam siklus hidrologi diuraikan sebagai berikut.
1. Proses penguapan air permukaan, seperti air laut, sungai, danau, sawah, dan air yang terkandung dalam tumbuhan menguap karena terkena sinar matahari. Proses penguapan tersebut disebut dengan evaporasi, di mana dalam proses ini terjadi perubahan bentuk air dari cair menjadi uap air atau awan.
2. Uap air dari hasil penguapan pada ketinggian tertentu berubah menjadi awan dan ada yang terbawa angin naik ke pegunungan, karena pengaruh udara dingin air berubah menjadi awan. Dalam proses ini terjadi perubahan bentuk air dari cair menjadi gas (uap) dan berubah lagi menjadi embun bahkan menjadi kristal-kristal es (benda padat).
3. Awan sampai pada suhu dan ketinggian tertentu akhirnya jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Dalam proses ini air yang berbentuk padat (kristal es) jatuh ke permukaan bumi menjadi air. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi ada yang mengalir di permukaan tanah (mengalir ke sungai, danau, dan laut) dan ada pula yang meresap ke dalam tanah. Air yang berada di permukaan tanah akan menguap lagi menjadi uap air dan awan, kemudian turun menjadi hujan, begitu seterusnya.

KLASFIKASI IKLIM
Variasi dalam iklim di muka bumi terjadi karena rotasi dan revolusi bumi serta adanya perbedaan garis lintang. Beberapa macam iklim antara lain sebagai berikut.
1.      Iklim matahari/Ikllim lintang
Klasifikasi ini didasarkan pada banyak sedikitnya cahaya matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Berikut pembagiaannya
a.       Daerah iklim tropis : 0˚ - 23,5˚ LU/LS
b.      Daerah iklim sub tropis : 23,5˚ - 40˚ LU/LS
c.       Daerah iklim sedang : 40˚ - 66,5˚ LU/LS
d.      Daerah iklim dingin : 66,5˚ - 90˚ LU/LS

2.      Iklim Koppen
Pengelompokan iklim ini berdasarkan suhu dan curah hujan.
Cara penentuan iklim dengan menentukkan curah hujan terendah dan rata-rata curah hujan dalam satu tahun dalam sebuah grafik.
Curah hujan terendah akan menentukkan iklim dengan keterangan sebagai berikut.
0 – 20 = AS/AW (Iklim sabana tropis)
20 – 40 = AM (Musim kerring agak pendek)
>40       = AF (Iklim hujan tropis)

3.      Iklim Schmidt – Fergusson
Pembagian iklim ini berdasarkan perhitungan jumlah bulan-bulan kering dibagi bulan-bulan basah dalam setahun, kemudian dikalikan seratus persen.

                                    Q =   x 100

Penentuan bulan-bulan basah dan kering menggunakan metode Mohr. Menurut Morh, dikatakan sebagai berikut.

a.       Bulan kering yaitu bulan-bulan yang curah hujannya kurang dari 60mm
b.      Bulan basah yaitu bulan-bulan yang curah hujannya lebih dari 100mm
c.       Bulan lembab yaitu bulan-bulan ynag curah hujannya antara 60 – 100 mm
Pembagian iklim  menurut Schmidt – Fergusson :
1.      Iklim A : 0 - < 14,3% ( Sangat Basah )
2.      Iklim B : 14,3 - < 33,3% ( Basah )
3.      Iklim C : 33,3 - < 60% ( Agak Basah )
4.      Iklim D : 60 - < 100% ( Sedang )
5.      Iklim E : 100 - < 167% (Agak Kering )
6.      Iklim F : 167 - > 300% ( Kering )
7.      Iklim G : 300 - > 700% ( Sanagt Kering )
8.      Iklim H : = 700% ( Luar Biasa Kering )

4.      Iklim F. Junghuhn
Junghuhn mengklasifikasikan daerah iklim di Pulau Jawa secara vertical sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan yaitu sebagai berikut.
a.       Daerah panas atau tropis
Tinggi tempat : 0 – 600 m di atas permukaan laut.
Suhu                 : 26,3˚ C - 22˚ C.
Tanaman         : padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, coklat.
b.      Daerah sedang
Tinggi tempat : 600 – 1500 m di atas permukaan laut.
Suhu                 : 22˚ C – 17,1˚ C.
Tanaman         : padi, tembakau, kina, coklat, sayur-sayuran.
c.       Daerah sejuk
Tinggi tempat : 1500 – 2500 m di atas permukaan laut.
Suhu                 : 17,1˚ C – 11,1˚ C.
Tanaman         : kopi, teh, kina, sayur-sayuran. 
d.      Daerah dingin
Tinggi tempat : lebih dari 2500 m di atas permukaan laut.
Suhu                 : 11,1˚ C – 6,2˚ C.
Tanaman         : tidak ada tanaman budi daya.

5.      Iklim Oldeman
Metode Oldeman (1975) hanya menggunakan unsur curah hujan sebagai dasaar klasifikasi iklim. Penggolongan iklimnya dikenal dengan sebutan zona agroklimat  (agro-climatic classification).
Pembagian bulan basah, kering, lembab sebagai berikut.
a.       Bulan basah jika curah hujan lebih dari 200 mm
b.      Bulan lembab jika curah hujannya antara 100 – 200 mm
c.       Bulan kering jika curah hujannya kurang dari 100 mm
Tipe-tipe ikim menurut Oldeman.
Iklim A : terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan.
Iklim B : terdapat 7-9 bulan basah berurutan.
Iklim C : terdapat 5-6 bulan basah berurutan.
Iklim D : terdapat 3-4 bulan basah berurutan.

Iklim E : terdapat kurang dari 3 bulan basah berurutan.